Senin, 18 November 2013

Pikiran Kalut yang Sibuk-Sendiri

Beberapa waktu lalu aku bangun pagi hari, bahkan teramat sering, sepagi orang-orang yang bersiap untuk berangkat kerja, sepagi anak-anak yang bergegas kesekolah, sepagi ibu rumah tangga yang menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.
Bangun pagiku tak ada tujuan, bukan untuk bersiap bekerja, bukan juga untuk mengejar deadline tugas kuliah.
Pagi hari yang cukup sendu karna matahari yang tertutup awan mendung itu kosong kegiatan. Sampai pikiranku kalut, berterbangan kemana-mana seperti debu-debu yang ditiup baling-baling kipas angin.
Setelah beberapa saat pikiranku berhenti pada kalimat, "Mungkin emang bener, semakin kesini kita harus makin mandiri, segala sesuatunya udah harus sendiri."

Nggak usah bingung, yang ada dalam pikiran ini adalah ketika teringat masa-masa sekolah dimana pagi hari kita masih dengan sayup-sayup harus mandi dan bersiap untuk kesekolah mungkin kebanyakan seringnya kesiangan. Kalau sekolah nggak ada tujuannya (baca: males) biasanya niat nggak niat berangkatnya, tapi kalau ada tujuannya bisa semangat banget. Begitu sampai sekolah kita ketemu teman-teman untuk berbagi cerita ketemu gebetan atau....nyontek pr sama teman. Nah itu tadi tujuannya.
Rutinitas-rutinitas selama sekolah bikin kepikiran kalau dulu itu hari-hari kita selalu diwarnai oleh orang-orang yang macam-macam. Mulai dari yang nyenengin banget sampai yang nyebelin banget. Mereka orang-orang yang selalu bikin rutintas yang membosankan jadi bisa menyenangkan sampai akhirnya sulit untuk dilupakan.
Mereka bikin kita nggak pernah kesepian, bikin kita lupa gimana rasanya sendirian, sampai lupa apa rasanya pacaran. Iya, sesering itu mereka mengisi hari-hari kita sampai kita lupa rasanya yang tadi.

Tapi pagi itu terasa beda, tidak ada lagi yang bangunin pagi hari, tidak ada lagi yang bisa diajak untuk tertawa dipagi hari, sampai tidak ada lagi tempat untuk berbagi. Mereka, (orang yang dahulu mengisi hari-hari kita) tidak lagi bisa menyenangkan hati ini sesering dulu tidak lagi bisa menyebalkan seperti dulu. Mereka semua terhempas oleh waktu, waktu yang memaksa mereka untuk berbagi pada tugas bergelut dengan kesibukan mereka masing-masing. Tidak ada lagi tawa ngakak selepas dulu seramai dulu. Kalau dulu kita bisa berbagi tawa dengan teman sekelas sekarang mungkin hanya bisa dengan beberapa orang bahkan tak jarang hanya tertawa sendiri didepan layar handphone.

Semakin kesini kita dituntut untuk semakin mandiri. Pikiran ini semakin jauh, ketika dulu suka sama orang yang belum kita kenal bisa minta bantuan sama teman untuk minta dikenalin. Mungkin sering juga untuk dibantuin untuk jadian, seperti mak comblang gitu. Tapi sekarang atau beberapa waktu kedepan kita berusaha sendiri untuk tau namanya nomer telfonnya dan segala identitas tentang orang yang kita suka itu. Nggak ada lagi namanya bantuan teman nggak ada lagi mak comblang.

Dari seringnya kita sendiri kita nggak bisa bilang merka (teman-teman) itu yang menjauh untuk pegi. Kita nggak bisa bilang itu karna atas dasar pergi, mungkin aja waktu yg nuntut kita untuk belajar mandiri biar nggak kaget di masa tua nanti. Pikiran terlempar semakin jauh.
Terpikir gimana nanti ketika sudah mempunyai keluarga nanti, sibuk untuk bekerja untuk menafkahi istri yang kita cintai, semakin nggak punya waktu untuk berbagi bersama teman. Kita harus saling sama-sama pintar untuk mencuri-curi waktu untuk bersama sekedar menikmati secangkir kopi.
Ah... sudah lah, pikiran kalut ini terlalu jauh. Terlalu dini untuk menceritakan anak istri hanya dalam bayang-bayang ini.

Yang terpenting aku tak pernah meresa sesendiri orang nyasar yang hanya bisa berdiri sendiri seperti kipas angin yang menoleh ke kanan-kiri. Karna waktu nggak mungkin berhenti, seiring yang lama pergi maka yang baru akan menghampiri. Entah dengan dicari atau mungkin datang sendiri.
Ini bukan hanya tentang teman lama, kenangan sekolah, atau kisah masa lalu. Tapi ini soal semuanya, dimana segala yang lama dengan harus terpaksa berganti dengan yang sekarang ada. Karna gak akan selamanya tetap sama.


"Sesibuk apapun kamu saat ini, sisihkan waktu untuk sendiri, untuk sekedar menikmati secangkir kopi, lalu mulai lah pikirkan apa itu arti 'sendiri' dan apa yang kamu butuhkan saat ini."

Teruntuk, kamu yang sangat sibuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar