Minggu, 14 Juli 2013

[Wejangan Kata] "Sebuah Pesan dari Hujan"

Belum saja selesai aku memutar sendok dari mulut gelas yang berisikan secangkir kopi hitam, hujan datang secara tiba-tiba dan mengguyur alam semesta. Meski sedikit menyesalinya tetapi tak pantas juga untuk disesali. Keadaan yang tepat tanpa bisa diketahui terlebih dahulu. Kopi hitam dihiasi guyuran hujan yang menghembuskan angin kerinduan.

Kangen itu seperti rasa yang dihasilkan dari sruputan pertama pada secangkir kopi. 

Nyatanya tak ada lagi sruputan pertama, yang ada hanyalah kedua ketiga dan seterusnya. Iya, waktu yang telah kita lalui tidak bisa terluang meski hanya seditik. Hujan seperti menyadarkan bahwa masih ada yang bisa dinikmati daripada harus menyesali. Ketika secangkir kopi berkolaborasi dengan rintikan hujan bagaikan kebahagian yang terbalut rasa luka.

Sakit hati karna cinta itu memang pahit tapi jika kita ingin mengobatinya itu bukan hal yang sulit.

Air yang mengalir dari atap rumah seperti memberi petunjuk; bahwa hidup itu terus maju dan akan tetap mengalir. Sesekali ku seruput kopi yang sudah mulai agak hangat, sambil termenung melihat langit yang ditutupi awan gelap. Lagi, kutemui pelajaran yang diberikan alam secara diam.

Ketika sakit itu terlalu amat pedih, mungkin kamu butuh seseorang untuk menyembuhkan. Bukan hanya untuk sekedar merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kamu rasakan.

Sebuah pelajaran yang sangat sederhana disaat termenung menikmati secangkir kopi bertabur ribuan air yang turun dari langit bernama hujan. Terimakasih telah mengisi hari-hari ini, dari terang menjadi redup gelap dan kembali lebih berwarna. 

"Terkadang kita seperti hujan, kadang diharapkan kedatangannya kadang juga dibenci kehadirannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar