Minggu, 14 Juli 2013

[Wejangan Kata (lagi)] "Gelap Takkan Menyatu dengan Terang"

Menjelang terbit fajar aku memandangi layar laptop, tak tau harus berbuat apa dan melakukan apa. Pandanganku tertoleh kelangit luas. Seperti gelisah akan hilangnya gelap dan terbitnya sang fajar. Gelap yang begitu aku sukai kehadirannya; karna saat yang nyaman untuk memikirkanmu.
Tak ada lagi yang harus diperjuangkan, tak ada lagi yang perlu dikejar. Semua telah menjadi debu dan musnah tertiup angin malam.

Didalam gelap aku berselimut, bila terang datang aku tak ingin menjemput; biarlah tetap merindu, karna sadar itu pahit.

Sebuah keadaan dimana kamu akan terus berlari-lari diotak ku, terus menghantui pikiranku. Bayanganmu menutupi kelopak mataku, samar-samar suara candamu sedikit terdengar ditelinga. Tanpa kenal lelah bekas harum tubuhmu terus berhembus disetiap hela nafasku; meski nyatanya hanya haluan masa lampau. Bila terang datang semua seperti terhapus oleh sinar sang fajar.

Gelap mengantarkan satu kata dan terang menampar dengan nyata; kerinduan tak lagi bersama kita.

Bukan sebuah penyesalan dari apa yang telah kita ukir bersama, bukan pula sebuah pengharapan dari hati yang telah terlupakan. Hanya sebuah haluan yang coba ku tuliskan melalui jari-jemari nakal ku yang berusaha untuk menampar diri sendiri. Persis seperti apa yang sedang ku rasa saat ini, saat merasakan hembusan angin yang mengantarkan gelap dan menjemput sang fajar.

Berhembus angin yang membawa harapan lalu pergi begitu saja; mimpi-mimpi tak lagi bisa teruwujud bersama.

Tak sengaja salah satu folder disini terbuka, bukan tentang kamu ataupun kita. Tentangmu dan tentang kita sudah terhapus bersih tanpa ada sisa. Tapi terpikir, "kenangan itu akan tetap ada dan akan selalu nyata didalam pikiran". Seolah aku tak ingin kenangan itu rusak terlebih mengganggu langkahku untuk melangkah maju, aku menyimpannya didalam kotak tersendiri didalam otak. Tertata rapih dan terbungkus rapih. Jadi ada satu kotak dimana aku menaruh semuanya, dan jika aku sudah siap aku akan buka kotak itu untuk sekedar melihat dan membersihkannya.

Biarlah semua tetap bertahan pada kegelapan hingga gelap menyerah pada terangnya sang fajar. Tak ada lagi kamu, tak ada lagi harummu, semua hanya masa lalu. Marilah kita sambut sang fajar dengan senyuman yang hadir membawa mimpi-mimpi baru.

Biar bagaimana pun gelap tidak akan menyatu dengan terang, begitu pula masa lalu mu yang berusaha kamu campurkan dengan masa depanmu.

"Sudah berapa matahari pagi yang kamu lewatkan hanya untuk memikirkan dia?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar