Sabtu, 01 Maret 2014

Berurusan Dengan Perempuan Rumit

Berurusan dengan perempuan itu nggak segampang minta uang jajan sama ibu. Rumit.
Meski kadang minta uang jajan sama ibu juga nggak gampang-gampang banget. Kadang ditanya dulu buat apa, ditanya "emang uang jajan yang kemarin udah abis?". Dan setelah dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu belum tentu juga dikasih. Iya, begitulah berurusan dengan perempuan.

Baru aja siang tadi tepatnya setelah solat jum'at gue ngalamin sendiri kejadian yang bikin gue yakin memang rumit punya urusan sama perempuan. Gue abis disemprot lewat telepon sama kastamer ditempat gue kerja. Dia (perempuan itu, mbak-mbak kayaknya), nanya soal keberadaan pesanan barangnya -yang sebenarnya udah jadi tapi keselip-. Langsung aja deh gue ilustrasikan kejadiannya :

*Siang hari, jam makan siang*
telepon berbunyi, diangkat sama temen gue. Nggak lama kemudian dia balik lagi dengan muka kebingungan, panik, persis kaya orang kebelet boker.
Temen gue : eh itu si nona itu (nama buatan) nanyain barangnya, udah aku bilang nanti dulu dia malah marah-marah
Gue : yaudah bilang aja nanti, sekarang lagi istirahat
Temen gue : yaudah ji kamu dulu tolong bilang, aku kan lagi makan

Gue yang tadinya mau ngejelasin kalau barangnya nanti bakal dicari setelah jam makan siang malah disemprot! *sroooooot!
Gue : halooo, maaf mbak sekarang lagi istirahat barangnya nanti dicari kok pasti
Nona : apa mas? nanti? nanti kapannnn??? saya udah dikejar deadline nih!!!
Dia marah. Dia murka. Serem. Untung gak liat mukanya.
Gue : ya iya, tapi kan ini lagi istirahat mbak....
Gue ngomong dengan nada yang halus bercampur kebingungan.
Nona : Istirahat kok lama banget?? sampe jam berapa???
Gue : iya kan sholat jum'at-an mbak...
Nona : sholat jum'at kok lama amattt??? istirahatnya jangan disamain kaya jam istirahat pemerintah dong mas....
*Gue mulai kencing dicelana*
Gue :yaudah mbak tunggu sebentar, saya panggilin temen saya yang tau..
Nona : yaudah cepet pokoknya siang ini udah harus ada!!

Gue panggil temen gue yang tau soal itu buat ngomong sama si kastamer.
Dan gue jongkok dipojokan karna shock abis disemprot.
Selang beberapa menit temen gue nutup telepon itu dan muka dia santai aja.
Gue : gimana? marah-marah apalagi dia?
Temen gue 2 : iyaa, udah gue bilang barangnya ntar dicari trus ntar dianter.
Gue : kenapa gak daritadi aja dia kaya gitu ke gue?
Temen gue 2 : iya dia emang gitu. Ribet.

Tamat.

Ya begitu lah ceritanya tadi siang. Nona itu yang awalnya mau nanya soal keberadaan barangnya malah ceramah. Pada saat dia bicara sama gue dia cuma awalnya aja nanya soal barangnya, selebihnya dia malah ceramahin gue soal jam istirahat. Setelah itu gue jadi yakin kalau berurusan dengan perempuan memang rumit. Kita baru bilang a dia udah bilang a sampai z. Begitu juga berurusan soal hati dan perasaan dengan perempuan.

Perempuan itu dikenal dengan makhluk yang perasa, terlebih rasa gengsi. Dalam hal perasaan perempuan itu adalah seorang penunggu. Itu anggapan kebanyakan perempuan. Mereka yang udah lama suka sama cowok yang udah punya pacar rela menunggu sampai putus. Kejadian yang lebih miris lagi adalah ketika si perempuan sayang sama cowok tapi nggak berani bilang. "Tapi kan harusnya cowok dulaun yang bilang!!!" begitulah kuping gue diteriakin sama keyboard*

*Keyboard terdapat banyak huruf tapi nggak bakal jadi kata dan kalimat tanpa adanya tindakan dari kita (Baca : diketik)

Perempuan rela menunggu berlama-lama diatas kegelisahan hatinya berharap si cowok nembak duluan. Entah si cowok udah sayang beneran atau cuma sayang dimata perempuan itu aja. Karna ketika udah suka atau sayang sama seseorang maka segala apapun yang dilakukan orang itu seolah-olah untuknya. Singkatnya, ke-pe-de-an.
Kenapa pas si perempuan udah sayang sama si cowok nggak langsung bilang? kenapa harus ada kode-kodean? Bilang aja langusng "Aku sayang sama kamu!" gitu. Tapi nggak segampang apa yang udah kita baca tadi. Perempuan selalu punya beribu-ribu pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Perempuan selalu punya berpuluh-puluh opsi sebelum bertindak. Perempuan selalu memilah-memilih kalimat dulu sebelum berucap.

Perempuan sering bergelut dengan hati dan pikirannya sendiri. Mungkin itu yang bikin perempuan gampang ke-galau-an. Tapi itulah perempuan, punya cara yang unik untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan cara yang rumit itu misalnya. Seumpama perempuan punya cara yang simpel dan cowok juga demikian, malah keliatan garing kan?

Buat cowok-cowok yang tertarik pada perempuan. Saran gue, buat cara sesimpel mungkin buat ngedapetin perempuan yang lo sayang. Perempuan itu suka bingung dengan dirinya sendiri, jangan ditambah bingung lagi dengan cara lo yang rumit. Perempuan butuh cowok yang bisa bikin dia percaya bahwa apa yang dihadapin nggak serumit yang dipikirin. Serumit apapun perempuan dia tetap menarik dimata cowok yang tertarik sama dia.

Dengan sikap perempuan yang rumit, kita bisa tau mana cowok yang udah siap jadi imam bagi perempuan mana yang belum siap. Yaa dengan cara sesimpel mungkin menghadapi si perempuan.

Selasa, 25 Februari 2014

Tentang Pentingnya Tujuan dan Keluar Dari Zona Nyaman

Malam ini gue gak bisa tidur. Tepatnya sih udah menjelang pagi, sebenernya gak penting sih...
Lantaran gue gak bisa tidur alhasil pikiran gue kabur kemana-mana, susah dijinakan. Mulai dari mikirin hal-hal yang kecil sampai yang besar. Mikirin gebetan juga gak ketinggalan.
Tapi pikiran gue ini lebih ke planing-planing jangka panjang. Gue mulai mikirin gimana cara buat gue mendapatkan sesuatu yang gue mau dengan cara yang sederhana tapi tetap bisa dapetin itu. Terutama sesuatu yang gue butuhin. Dengan rutinitas baru yang belum lama ini gue jalanin gue mulai merincikan satu persatu planing yang gue mau.

Sebelumnya gue mau sekedar sharing aja sih tentang betapa pentingnya kita mencoba rutinitas baru atau bahasa kerennya 'keluar dari zona nyaman'. Iya, zona nyaman itu emang menyenangkan. Tapi kadang kita dibuat stuck disitu-situ aja alias nggak berkembang alias jalan ditempat.
Gue udah lama banget ngejalanin rutinitas main-tidur-begadang-main-tidur-begadang sampai akhirnya nggak tau lagi mau kemana tujuan rutinitas tersebut. Tapi pelan-pelan gue mulai ketemu jalan untuk keluar dari zona nyaman yang perlahan bisa bikin gue menata planing-planing yang bakal gue capai. Insyaallah!
Setelah gue bisa sedikit-demi sedikit keluar dari zona nyaman itu gue mulai punya target. Buat gue target itu penting. Selain buat memenuhi kebutuhan yang kita mau itu juga biar ada tujan. Biar nggak ngambang gitu aja. Hitung-hitung cari pengalaman.

Ngomong-ngomong soal ngambang, gue jadi teringat obrolan gue yang udah cukup lama. Waktu itu gue ngobrol-ngobrol gitu sama abang-abangan. Ralat, bukan abang-abangan. Intinya dia lebih tua dari gue.
Bahasa kerennya sharing moment, terkait soal tujuan hidup. Dia mencoba mendefinisikan arti hidup yang berprinsip 'Hidup itu jalanin aja, ngalir aja kaya air', kurang lebih seperti itu. Lalu dia kurang setuju, seharusnya ditambahin lagi, kata dia. Menjadi, "Hidup itu jalanin aja, ngalir aja kaya air, tapi tetap harus ada tujuannya". Yaaaaak, dan gue pun sependapat. Bahkan air yang ngalir ajapun tetap punya tujuan bukan? eek yang ngambang aja tetap ada tujuannya. Jangan sampai yang 'ngalir aja' itu malah tergenang di tengah jalan yang artinya stuck disitu-situ aja. Jadi biar gimanapun kita tetap punya tujuan. Mau gimana pun jalanannya yang penting itu jalan menuju tujuan. Kalau pun palaning kita meleset berarti kita harus coba cara lain untuk sampai ketujuan itu.

Jadi, mulailah membuat tujuan. Cobalah buat keluar dari zona nyaman. Itu pun kalau mau :)
Maaf, bukannya menggurui. Tapi gue cuma mau sharing-sharing aja sih tentang betapa pentingnya planing jangka panjang dan jangka pendek. Tentang betapa pentingnya tujuan disetiap perjalanan.
Kalau gue menganggap rutinitas baru gue ini sebagai bagian dari resolusi ditahun 2014. Kadang emang terasa membosankan sih rutinitas baru tapi satu yang harus diinget, kita bisa karna terbiasa. Jadi dengan kita terbiasa menjalani rutintas baru kita bakal terbiasa.
Setiap anak pasti kepingin membahagiakan orang tuanya, bagaimana pun itu bentuknya. Membahagiakan orang tua itu juga bagian dari tujuan. Mulai coba dari tujuan-tujuan kecil, cari cara buat mendapatkan tujuan kecil itu. Kalau kita sudah mulai bisa mencapai target yang kecil baru lah kita mulai ke target yang besar, atau mau langsung ke target yang besar ya boleh-boleh aja....

Karna ada yang bilang (gue lupa siapa), semakin kita membayangkan mimpi-mimpi kita maka semakin besar semangat kita untuk menggapainya. Kalau udah semangat kan pasti kita tergerak, nggak mungkin diam aja dikasur. Kalau kata temen gue "KERJA KERAS NGGAK BAKAL MENGKHIANATI!".

Kalau mau sharing-sharing boleh kok di kolom comment :))

Jumat, 27 Desember 2013

Sejauh Mata Memandang

Sejauh mata memandang terlihat baik-baik saja
Seolah tak ada yang menjadi objek perhatian
Terlihat biasa saja sama seperti biasanya
Raut wajahmu menghasilkan senyum kebahagian

Sejauh mata memandang kelopak matamu bercahaya
Seperti tak ada yang membuatmu merasa kesepian
Kau tampung setiap sedih orang-orang disana
Tak seperti kebanyakan kupu-kupu yang sibuk mencari keramaian

Sejauh mata memandang kau seperti baja
Tak pernah merasa lelah apalagi kesakitan
Bagai pesawat tempur yang siap terbang kemana saja
Mungkin itu yang membuatmu beda dari yang lain

Sejauh mata memandang kau selalu terlihat tertawa
Tapi kucoba melihatmu lebih dekat, memperihatinkan
Tubuhmu penuh memar, penuh luka, penuh rasa kecewa
Tapi itulah kamu, pintar menutupi segala apa yang kau rasa


inspirasi : Kamu